Senin, 28 Maret 2011

makalah tugas dan tanggung jawab bidan terhadap pembinaan dukun bayi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Tingginya angka kematian ibu dan bayi menunjukan masih rendahnya kualitas pelayanaan kesehatan. Delapan puluh persen persalinan di masyarakat masih di tolong oleh tenaga non-kesehatan, seperti dukun. Dukun di masyarakat masih memegang peranan penting, dukun di anggap sebagai tokoh masyarakat. Masyarakat masih memercayakan pertolongan persalinan oleh dukun, karena pertolongan persalinan oleh dukun di anggap murah dan dukun tetap memberikan pendampingan pada ibu setelah melahirkan, seperti merawat dan memandikan bayi. Untuk mengatasi permasalahan persalinan oleh dukun, pemeritah membuat suatu terobosan dengan melakukan kemitraan dukun dan bidan. Salah satu bentuk kemitraan tersebut adalah dengan melakukan pembinaan dukun yan merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab bidan.  Maka dari itu tugas dan tanggung jawab bidan terhadap dukun bayi sangat memberikan kontribusi yang cukup penting.

B.     Rumusan masalah
Dilihat dari latar belakang diatas, kami dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dukun bayi ?
2.      Apa ciri-ciri dukun bayi ?
3.      Apa tujuan dukun bayi ?
4.      Apa saja pembagian dukun bayi ?
5.      Apa fungsi dukun bayi?
6.      Apa kelebihan dan kekurangan bersalin pada dukun bayi ?
7.      Apa fungsi bidan ?
8.      Apa saja tugas pokok bidan ?
9.      Apa saja wewenang bidan ?
10.  Bagaimana pembinaan dukun bayi ?


C.    Tujuan Makalah
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakat dan sebagai pengetahuan tambahan bagi para pembaca tentang tugas dan tanggung jawab bidan terhadap dukun bayi.
D.    Kegunaan Makalah
Makalah ini bisa dipergunakan sebagai referensi bagi para pembaca yang ingin menambah pengetahuannya tentang tugas dan tanggung jawab bidan terhadap dukun bayi.

E.     Metode penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah metode studi kepustakaan.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN DUKUN BAYI

Dukun bayi adalah profesi seseorang yang dalam aktivitasnya, menolong proses persalinan seseorang, merawat bayi mulai dari memandikan, menggendong, belajar berkomunikasi dan lain sebagainya. Dukun bayi biasanya juga selain dilengkapi dengan keahlian atau skill, juga dibantu dengan berbagai mantra khusus yang dipelajarinya dari pendahulu mereka. Proses pendampingan tersebut berjalan sampai dengan bayi berumur 2 tahunan. Tetapi, pendampingan yang sifatnya rutin sekitar 7 - 10 hari pasca melahirkan.
Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengenal dukun bayi atau dukun beranak sebagai tenaga pertolongan persalinan yang diwariskan secara turun temurun. Dukun bayi yaitu mereka yang memberi pertolongan pada waktu kelahiran atau dalam hal-hal yang berhubungan dengan pertolongan kelahiran, seperti memandikan bayi, upacara menginjak tanah, dan upacara adat serimonial lainnya. Pada kelahiran anak dukun bayi yang biasanya adalah seorang wanita tua yang sudah berpengalaman, membantu melahirkan dan memimpin upacara yang bersangkut paut dengan kelahiran itu (Koentjaraningrat, 1992).

B.     CIRI-CIRI DUKUN BAYI

Menurut Sarwono Prawiroharjo (1999) ciri dukun bayi adalah :
a. Dukun bayi biasanya seorang wanita, hanya dibali terdapat dukun bayi pria.
b. Dukun bayi umumnya berumur 40 tahun keatas.
c. Dukun bayi biasanya orang yang berpengaruh dalam masyarakat.
d. Dukun bayi biasanya mempunyai banyak pengalaman dibidang sosial, perawatan diri sendiri, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.
e. Dukun bayi biasanya bersifat turun menurun.

C.    TUJUAN DUKUN BAYI

Secara tradisional, dukun bayi terampil dalam hal pertolongan persalinan dan perawatan ibu dan anak. Dalam hubungannya dengan pelayanan kesehatan, keterampilan tersebut dapat diteruskan dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan pelayanan kesehatan.

D.    PEMBAGIAN DUKUN BAYI

Menurut Depkes RI, dukun bayi dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Dukun Bayi Terlatih, adalah dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
b. Dukun Bayi Tidak Terlatih, adalah dukun bayi yang belum pernah terlatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.

E.     FUNGSI DUKUN BAYI

Selaras dengan keterampilannya, dukun bayi memiliki 2 macam fungsi, ialah fungsi utama dan fungsi tambahan. Fungsi utama dukun bayi ialah melaksanakan pertolongan persalinan secara benar dan aman. Untuk mendukung fungsi utamanya, maka fungsi tambahan dapat dikembangkan setempat, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pelayanan kesehatan. Dalam kerangka program KIA, fungsi dukun bayi meliputi:
·         Perawatan ibu hamil normal
·         Pengenalan dan rujukan ibu hamil dengan resiko tinggi dan penyulit kehamilan
·         Rujukan ibu hamil untuk mendapat suntikan TT
·         Persalinan yang aman
·         Perawatan masa nifas
·         Pengenalan dan rujukan ibu masa nifas dan bayi untuk diimunisasi

Agar dukun bayi dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Diharapkan mereka terlibat secara aktif di posyandu setempat. Jenis dan derajat keterlibatan dukun bayi di posyandu diserahkan kepada dukun bayi sendiri dan pengaturan dukun bayi di masyarakat.
 Peningkatan kesejahteraan masyarakat termasuk didalamnya penurunan kematian bayi dan anak, akan lebih berhasil bila mengikutsertakan masyarakat. dukun bayi adalah salah satu warga masyarakat yang sangat potensial dalam upaya tersebut.

F.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BERSALIN PADA DUKUN

Peran dukun sangat sulit ditiadakan karena masih mendapat kepercayaan masyarakat. Terdapat kelebihan dan kekurangan persalinan yang ditolong oleh dukun antara lain :

a. Kelebihan
- Dukun merawat ibu dan bayinya sampai tali pusatnya putus.
- Kontak ibu dan bayi lebih awal dan lama
- Persalinan dilakukan di rumah
- Biaya murah dan tidak ditentukan.
b. Kekurangan
- Dukun belum mengerti teknik septic dan anti septic dalam menolong persalinan.
- Dukun tidak mengenal keadaan patologis dan kehamilan, persainan, nifas dan bayi baru lahir.
- Pengetahuan dukun rendah sehingga sukar ditatar dan di ikutsertakan dalam program pemerintah. (Pedoman Supervise Dukun Bayi, 1992)


G.    FUNGSI BIDAN

Fungsi Bidan di Desa adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan KIA termasuk KB, di wilayah Desa tempat tugasnya. Dalam menjalankan fungsinya di bidan Desa, diwajibkan tinggal di Desa tempat tugasnya dan melakukan pelayanan secara aktif sehingga tidak selalu menetap atau menunggu di suatu tempat pelayanan namun juga melakukan kegiatan atau pelayanan keliling dan kunjungan rumah sesuai dengan kebutuhan.
Fungsi bidan di desa secara khusus berkaitan dengan fungsinya sebagai bidan, yaitu pelayanan terhadap ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu subur dan bayi. Agar fungsi tersebut dapat berjalan dengan baik, maka perlu didukung oleh pengelolaan program KIA yang baik dan penggunaan peran serta masyarakat, khususnya dukun bayi.


H.    TUGAS POKOK BIDAN

Bidan di desa di prioritaskan sebagai pelaksana pelayanan KIA, khususnya dalam pelayanan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk pembinaan Dukun bayi. Dalam kaitan tersebut, bidan di desa juga menjadi pelaksana kesehatan bayi dan keluarga berencana, yang pelaksanaannya sejalan dengan tugas utamanya dalam pelayanan kesehatan ibu.
Salah satu tugas bidan dalam menggerakan dan meningkatan peran serta masyarakat dalam program  KIA khususnya pembinaan dukun bayi dan kader diantaranya:
1.      Pertolongan persalinan 3 bersih serta kewajibannya untuk lapor pada petugas kesehatan.
2.      Pengenalan kehamilan dan persalinan beresiko.
3.      Perawatan bayi baru lahir, khususnya perawatan tali pusat dan pemberian ASI ekslusive.
4.      Pengenalan neonatus beresiko, khususnya BBLR dan tetanus neonaturum serta  pertolongan pertamanya sebelum ditangani oleh petugas kesehatan
5.      Pelaporan persalinan dan kematian ibu serta bayi
6.      Penyuluhan bagi ibu hamil ( gizi, perawatan payudara, tanda bahaya) dan penyuluhan KB.
Dalam melaksanakan tugas pokonya tersebut, bidan perlu menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat setempat, khususnya pamong setempat, tokoh masyarakat dan sasaran.
Mengingat peran dukun di masyarakat, perlu dijalin kerjasama yang baik antara dukun dengan tenaga kesehatan sehingga dapat membantu kelancaran tugas sehari-hari dari bidan dan sekaligus membantu untuk merencanakan tugas-tugas lainnya yang menjadi tanggung jawab bidan.

I.       WEWENANG BIDAN

1.      Bidan mempunyai wewenang dalam memberikan penerangan dan penyuluhan tentang kehamilan, persalinan, nifas, menyusukan dan perawatan buah dada, keluarga berencana, perawatan bayi, perawatan anak pra sekolah, dan gizi.
2.      Bidan melaksanakan bimbingan dan pembinaan tenaga kesehatan lain yang juga bekerja dalam pelayanan kebidanan dengan kemampuan yang lebih rendah, termasuk para dukun bayi atau paraji.
3.      Bidan melayani kasus ibu untuk : pengawasan kehamilan, pertolongan persalinan normal, termasuk pertolongan letak sungsang pada multipara, episiotomi dan penjahitan luka perineum tingkat I dan tingkat II, perawatan nifas dan menyusukan, pemberian uterotonik, pemakaian cara kontrasepsi tertentu sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah.
4.      Bidan melayani bayi dan anak pra sekolah: perawatan bayi baru lahir, pengawasan pertumbuhan dan pengembangan, pemberian imunisasi perawatan, petunjuk pemberian makanan.
5.      Bidan juga mempunyai wewenang memberikan obat-obatan meskipun hanya terbatas dan roboransia, pengobatan tertentu dibidang kebidanan, sepanjang tidak melalui suntikan, pemberian obat-obat bebas terbatas dimana diperlukan saja.

Dari kelima wewenang umum ini, yang bertanggung jawab apabila terjadi hal yang tidak diinginkan yaitu sepenuhnya pada bidan yang bersangkutan. Jadi bila terjadi tuntutan hukum pada hal hal yang dilakukan bidan dalam batas wewenang umum, maka yang dituntut adalah bidan yang bersangkutan.

J.      PEMBINAAN DUKUN

Tingginya angka kematian ibu dan bayi menunjukan masih rendahnya kualitas pelayanaan kesehatan. Delapan puluh persen  persalinan di masyarakat masih di tolong oleh tenaga non-kesehatan, seperti dukun. Dukun di masyarakat masih memegang peranan penting, dukun di anggap sebagai tokoh masyarakat. Masyarakat masih memercayakan pertolongan persalinan oleh dukun, karena pertolongan persalinan oleh dukun di anggap murah dan dukun tetap memberikan pendampingan pada ibu setelah melahirkan, seperti merawat dan memandikan bayi. Untuk mengatasi permasalahan persalinan oleh dukun, pemeritah membuat suatu terobosan dengan melakukan kemitraan dukun dan bidan. Salah satu bentuk kemitraan tersebut adalah dengan melakukan pembinaan dukun.

a.      Pengertian  Pembinaan Dukun
Dalam beberapa budaya (kultur), dukun bayi di artikan sebagai seseorang wanita yang memiliki pengaruh besar dimasyarakat yang berpotensi untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.
Pembinaan dukun adalah suatu pelatihan yang di berikan kepada dukun bayi oleh tenaga kesehatan yang menitik beratkan pada peningkatan pengetahuan dukun yang bersangkutan, terutama dalam hal hygiene sanitasi, yaitu mengenai kebersihan alat-alat persalinan dan perawatan bayi baru lahir, serta pengetahuan tentang perawatan kehamilan, deteksi dini terhadap resiko tinggi pada ibu dan bayi, KB, gizi serta pencatatan kelahiran dan kematian. Pembinaan dukun merupakan salah satu upaya menjalin kemitraan antara tenaga kesehatan (bidan) dan dukun dengan tujuan menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

b.      Tujuan Pembinaan Dukun Bayi
Dukun bayi merupakan tokoh kunci dalam masyarakat yang berpotensi untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Peran dan pengaruh dukun sangat bervariasi sesuai dengan budaya yang berlaku. Peran dukun dalam masa perinatal sangat kecil atau dukun memiliki wewenang yang terbatas dalam pengambilan keputusan tentang cara penatalaksanaan komplikasi kehamilan atau persalinan, sehinngga angka kematian masih tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, yaitu untuk meningkatkan status dukun dalam pengambilan keputusan, maka di lakukan upaya pelatihan dukun bayi agar mereka memiliki pengetahuan dan ide baru yang dapat di sampaikan dan di terima oleh anggota masyarakat.
Beberapa program pelatihan dukun bayi memperbesar peran dukun bayi dalam program KB dan pendidikan kesehatan di berbagai aspek kesehatan reproduksi dan kesehatan anak. Pokok dari pelatihan dukun adalah untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan yang sebenarnya sudah di lakukan oleh dukun, seperti memberikan saran tentang kehamilan, melakukan persalinan bersih dan aman, serta mengatasi masalah yang mungkin muncul pada saat persalinan, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat di kurangi atau di cegah sedini mungkin.

c.       Langkah-langkah Pembinaan Dukun
Pembinaan dukun dilakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan peraturan dari masing-masing daerah atau dukun berasal ,karena tidak mudah mengajak seseorang dukun untuk mengikuti pembinaan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut:
1) Meminta bantuan pamong desa untuk memotivasi dukun bayi agar bersedia mengikuti pelatihan-pelatihan dukun yang di selanggarakan oleh bidan.
2) Mengajak dukun bayi yang sudah di latih untuk ikut serta memberikan penyuluhan dan membantu melakukan deteksi dini ibu resiko tinggi di posyandu maupun pada kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat.

d.      Upaya Pembinaan Dukun
Dalam praktiknya, melakukan pembinaan dukun di masyarakat tidaklah mudah. Masyarakat masih menganggap dukun sebagai tokoh masyarakat yang patut dihormati, memiliki peran penting bagi ibu-ibu di desa. Oleh karena itu, di butuhkan upaya agar bidan dapat melakukan pembinaan dukun. Beberapa upaya yang dapat dilakukan bidan di antaranya adalah sebagai berikut:
1)      Melakukan pendekatan dengan para tokoh masyarakat setempat.
2)      Melakukan pendekatan dengan para dukun.
3)      Memberikan pengertian kepada para dukun tentang pentingnya persalinan yang bersih dan aman.
4)      Memberi pengetahuan kepada dukun tentang komplikasi-komplikasi kehamilan dan bahaya proses persalinan.
5)      Membina kemitraan dengan dukun dengan memegang asas saling menguntungkan.
6)      Menganjurkan dan mengajak dukun merujuk kasus-kasus resiko tinggi kehamilan kepada tenaga kesehatan.
e.       Klasifikasi Materi Pembinaan Dukun
Berikut adalah klasifikasi materi yang di berikan untuk melakukan pembinaan dukun:
·         Promosi Bidan Siaga
Salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sasuai apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat di libatkan dalam perawatan bayi baru lahir. Apabila cara tersebut dapat di lakukan dengan baik, maka dengan kesadaran, dukun akan memberitaukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Ibu dan bayi selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi di wilayah tersebut semakin meningkat.

·         Pengenalan Tanda Bahaya Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan Rujukan
           Dukun perlu mendapatkan peningkatan pengetahuan tentang perawatan pada ibu hamil, sehingga materi tentang pengenalan terhadap ibu hamil yang beresiko tinggi, tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas, dan rujukan merupakan materi yang harus di berikan, agar dukun bayi dapat melakukan deteksi dini kegawatan atau tanda bahaya pada ibu hamil, bersalin, nifas dan segera mendapatkan rujukan cepat dan tepat.
Berikut ini adalah materi-materi dalam pelaksanaan pembinaan dukun:
1. Pengenalan golongan resiko tinggi
                        Ibu yang termasuk dalam golongan resiko tinggi adalah ibu dengan umur terlalu muda (kurang 16 tahun) atau terlalu tua (lebih 35 tahun), tinggi badan kurang dari 145 cm, jarak antara kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) atau terlalu lama (lebih dari 10 tahun), ibu hamil dengan anemia, dan ibu dengan riwayat persalinan buruk (perdarahan, operasi, dan lain-lain).
   2.    Pengenalan tanda-tanda bahaya pada kehamilan
                                    Pengenalan tanda-tanda bahaya pada kehamilan meliputi perdarahan pada kehamilan sebelum waktunya; ibu demam tinggi; bengkak pada kaki, tangan dan wajah; sakit kepala atau kejang; keluar air ketuban sebelum waktunya; frekuensi gerakan bayi kurang atau bayi tidak bergerak; serta ibu muntah terus menerus; dan tidak mau makan
3. Pengenalan tanda-tanda bahaya pada persalinan
                 Tanda-tanda bahaya pada persalinan, yaitu bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak ibu merasakan mulas, perdarahan melalui jalan lahir, tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir, ibu tidak kuat mengejan atau mengalami kejang, air ketuban keruh dan berbau, plasenta tidak keluar setelah bayi lahir, dan ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat.
4. Pengenalan tanda-tanda kelainan pada nifas
                    Tanda-tanda kelainan pada nifas meliputi: perdarahan melalui jalan lahir; keluarnya cairan berbau dari jalan lahir; demam lebih dari dua hari; bengkak pada muka, kaki atau tangan; sakit kepala atau kejang-kejang; payudara bengkak disertai rasa sakit; dan ibu mengalami gangguan jiwa.
5. Pengenalan Dini Tetanus Neonatorum, BBLR, dan Rujukan
a)      Tetanus neonatorum
                 Dari 148 ribu kelahiran bayi di indonesia, kurang lebih 9,8% mengalami tetanus neonatorum yang berkaitan pada kematian. Pada tahun 1980 tetanus menjadi penyebab kematian pertama pada bayi usia di bawah satu bulan. Meskipun angka kejadian tetanus neonatorum semakin mengalami penurunan, akan tetapi ancaman masih tetap ada, sehingga perlu diatasi secara serius.
               Tetanus neonatorum adalah salah satu penyakit yang paling berisiko terhadap kematian bayi baru lahir yang di sebabkan oleh basil clostridium tetani. Tetanus noenatorum menyerang bayi usia di bawah satu bulan, penyakit ini sangat menular dan menyebabkan resiko kematian. Tetanus neonatorum di masyarakat, kebanyakan terjadi karena penggunaan alat pemotong tali pusat yang tidak steril. Gejala tetanus di awali dengan kejang otot rahang (trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut lengan atas dan paha.
               Dengan diberikan pembekalan materi tetanos noenatorum di harapkan dukun dapat memperhatikan kebersihan alat persalinan, memotivasi ibu untuk melakukan imunisasi, dan melakukan persalinan pada tenaga kesehatan, sehingga dapat menekan angka kejadian tetanus noenatorum.
b)      Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
               Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg, disertai dengan tanda-tanda kulit keriput, pergerakan lemah, dan sianosis. Kondisi ini merupakan salah satu faktor yang turut kontribusi terhadap kematian bayi.
               Dukun di harapkan dapat segera melakukan rujukan ke puskesmas atau tenaga kesehatan apabila menemukan tanda-tanda bayi dengan berat badan lahir rendah, karena bayi dengan berat badan lahir rendah memerlukan perawatan khusus.
c)      Penyuluhan gizi dan KB
               Untuk mewujudkan misi keluarga kecil, bahagia, dan berkualitas di perlukan keterlibatan semua pihak. Dukun sebagai orang terdekat dengan ibu hamil di masyarakat berkontribusi terhadap suksesnya pelaksanaan program KB dan menjaga kesehatan ibu hamil, bersalin, dan nifas dengan makanan bergizi. Melalui penyuluhan gizi dan KB yang di lakukan oleh tenaga kesehatan kepada dukun, di harapkan dukun dapat menindaklanjuti dengan menyebarkannya kepada masyarakat.
               Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan harys memberikan imformasi kepada dukun tentang pentingnya makanan bergizi untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi, serta menghindari pantang makanan. Selain masalah gizi, materi KB perlu diberikan juga kepada dukun. Dengan keikut sertaan dukun dalam menyukseskan program KB, kesejahteraan ibu dan bayi meningkat. Ibu mempunyai banyak waktu untuk menyusui dan merawat bayi, menjaga kesehatan sendiri, dan mengurus keluarga.
d)     Pencatatan kelahiran dan kematian ibu dan bayi
               Materi lain yang penting dalam pembinaan dukun adalah pencatatan kelahiran dan kematian. Pemberian materi pencatatan kelahiran dan kamatian di tujukan untuk mempermudah dalam pendataan jumlah kelahiran dan kematian di suatu wilayah atau desa, serta bermanfaat dalam pelaksanaan proses audit apabila ada kematian baik ibu maupun bayi.

·         Menolong Persalinan Seacara Bersih dan Aman
Mengingat peran dukun di masyarakat, para dukun diajarkan dan diberi pendidikan tentang menolong persalinan agar tidak terjadi infeksi baik pada ibu maupun pada bayi. Pertolongan persalinan harus menerapkan 3 bersih yaitu bersih alat, tempat, dan bersih penolong.
1) Bersih tempat melahirkan
a) ruangan harus hangat, tertutup, bersih dan terang, ada ventilasi dan jauh dari kandang.
b) Alas tempat persalinan diberi perlak yang mudah dibersihkan
c) Tersedia handuk dan selimut yang bersih dan kering
2) Bersih alat
Alat yang dipergunakan dalam persalinan harus dalam keadaan bersih.
3) Bersih penolong.
Penolong harus mencuci tangan terlebih dahulu untuk mencegah infeksi. Penolong harus melepaskan perhiasan dari tangan, mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir.


f.       Hambatan dan Solusi dalam Pembinaaan Dukun
Secara alamiah, hambatan dalam setiap kegiatan pasti ada. Demikian juga dengan pembinaan dukun. Hambatan-hambatan yang sering di jumpai dalam melakukan pembinaan dukun di masyarakat diantaranya adalah sebagai berikut:
·         Sikap Dukun yang Kurang Kooperatif
Faktor yang menyebabkan sikap dukun yang kooperatif adalah adanya perasaan malu apabila dilatih oleh bidan, dukun merasa tersaingi oleh bidan, dan dukun terlalu idealis dengan cara pertolongan persalinan yang dilakukan.

-          Solusi
Informasikan dan tekankan kepada dukun bahwa pembinaan yang dilakukan bukan untuk melakukan perubahan metode atau kebiasaan yang dilakukan oleh dukun dalam melakukan pertolongan persalinan atau untuk bersaing. Akan tetapi, pembinaan yang dilakukan bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman baru dalam pelayanan kebidanan. Bidan harus mengajak dukun untuk bekerja sama dengan cara memberikan imbalan sebagai ucapan terimakasih. Libatkan dukun dalam perawatan bayi baru lahir, misalkan memendikan bayi.

·         Kultur yang kuat
Budaya atau kultur merupakan faktor penghambat kuat untuk melakukan pembinaan dukun. Kuatnya budaya yang melekat di suatu masyarakat dapat memberikan pengaruh besar terhadap kebiasaan anggota masyarakatnya. Sosial budaya mengenai dukun yang merupakan hambatan dalam upaya pembinaan dukun adalah sebagai berikut:
a.       Dukun bayi biasanya adalah orang yang dikenal masyarakat setempat.
b.      Kepercayaan masyarakat terhadap dukun diperoleh secara turun menurun.
c.       Dukun bayi masih memiliki peranan penting bagi perempuan di pedesaan.
d.      Biaya pertolongan persalinan dukun jauh lebih murah daripada tenaga kesehatan.
e.       Pelayanan dukun dilakukan sampai ibu selesai masa nifas.
f.       Masyarakat masih terbiasa dengan cara-cara tradisonal.
Melihat hambatan tersebut diatas, diperlukan suatu upaya untuk menanamkan pemahaman baru pada dukun.
Anggapan dan kepercayaan masyarakat terhadap keterampilan dukun bayi berkaitan pula dengan sistem nilai budaya masyarakat. Sehingga dukun bayi pada umumnya diperlakukan sebagai tokoh masyarakat  setempat. Dengan demikian, dukun bayi merupakan potensi sumber daya manusia dalam pelayanan kesehatan.


-          Solusi
Lakukan berbagai metode pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat misalnya pamong desa, para petua-petua desa, tokoh agama yang sangat berpengaruh pada pola fikir masyarakat dengan memberikan penjelasan pentingnya pembinaan dukun, sehingga tokoh-tokoh masyarakat dapat melakukan advokasi kepada masyarakat, dan dapat memperbaiki kebudayaan yang melekat pada diri masyarakat yang dapat merugikan kesehatan terutama kesehatan ibu dan bayi.

·         Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi menjadi salah satu kendala masyarakat untuk melahirkan di tenaga kesehatan (bidan). Masyarakat dengan sosial ekonomi rendah atau miskin dengan pendidikan yang rendah cenderung mencari pertolongan persalinan pada dukun. Mereka beranggapan bahwa untuk melahirkan di tenaga kesehatan harus mengeluarkan biaya yang sangat besar, sehingga mereka merasa enggan untuk pergi ke tenaga kesehatan. Masyarakat yang demikian beranggapan bahwa dukun adalah seorang pahlawan, karena melahirkan di dukun lebih murah, dukun bersedia dibayar dengan barang ( seperti ayam atau hasil pertanian lainnya ), dan pembayaran bisa di angsur. Dukun memberikan pendampingan berupa pemijatan pada ibu, memandikan bayi sampai lepasnya tali pusat, dan terlibat dalam upacara adat, seperti tradisi selamatan bayi dan ibu nifas pada hari ke 7 dan ke 40.
-          Solusi
Sosialisasikan atau apabila di butuhkan musyawarahkan dengan masyarakat tentang biaya persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Bidan harus bisa bekerja sama dengan masyarakat mengenai persalinan, berdayakan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi dengan pertolongan persalinan di tenaga kesehatan. Bidan dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan pemetaan ibu hamil, membentuk tabungan ibu bersalin (tabulin), donor darah berjalan, dan ambulance desa.

·         Tingkat Pendidikan
Kebanyakan di masyarakat, dukun adalah orang tua yang harus di hormati dan mempunyai latar belakang pendidikan rendah. Oleh karena dukun memiliki latar belakang pendidikan rendah, sehingga tidak jarang dukun sulit untuk menerima pemahaman dan pengetahuan baru.

-          Solusi
Bidan harus mempunyai keterampilan komunikasi interpersonal dan memahami tradisi setempat untuk melakukan pendekatan dan pembinaan ke dukun-dukun. Lakukan pendekatan sesuai dengan tingkat pendidikan dukun, sehingga mereka dapat memahami dan menerima pengetahuan serta pemahaman baru khususnya mengenai kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir.    






BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.
Salah satu tugas bidan yaittu menggerakan dan meningkatan peran serta masyarakat dalam program  KIA khususnya pembinaan dukun bayi dan kader diantaranya:
7.      Pertolongan persalinan 3 bersih serta kewajibannya untuk lapor pada petugas kesehatan.
8.      Pengenalan kehamilan dan persalinan beresiko.
9.      Perawatan bayi baru lahir, khususnya perawatan tali pusat dan pemberian ASI ekslusive.
10.  Pengenalan neonatus beresiko, khususnya BBLR dan tetanus neonaturum serta  pertolongan pertamanya sebelum ditangani oleh petugas kesehatan
11.  Pelaporan persalinan dan kematian ibu serta bayi
12.  Penyuluhan bagi ibu hamil ( gizi, perawatan payudara, tanda bahaya) dan penyuluhan KB.
Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, bidan perlu menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat setempat, khususnya pamong setempat, tokoh masyarakat dan sasaran.
Mengingat peran dukun di masyarakat, perlu dijalin kerjasama yang baik antara dukun dengan tenaga kesehatan sehingga dapat membantu kelancaran tugas sehari-hari dari bidan dan sekaligus membantu untuk merencanakan tugas-tugas lainnya yang menjadi tanggung jawab bidan.
Salah satu wewenang atau tanggung jawab bidan yaitu bidan melaksanakan bimbingan dan pembinaan tenaga kesehatan lain yang juga bekerja dalam pelayanan kebidanan dengan kemampuan yang lebih rendah, termasuk para dukun bayi atau paraji.
Dukun di masyarakat masih memegang peranan penting, dukun di anggap sebagai tokoh masyarakat. Masyarakat masih memercayakan pertolongan persalinan oleh dukun, karena pertolongan persalinan oleh dukun di anggap murah dan dukun tetap memberikan pendampingan pada ibu setelah melahirkan. Untuk mengatasi permasalahan persalinan oleh dukun, pemeritah membuat suatu terobosan dengan melakukan kemitraan dukun dan bidan. Salah satu bentuk kemitraan tersebut adalah dengan melakukan pembinaan dukun.


B.     SARAN

Kita sebagai tenaga kesehatan atau bidan harus meningkatkan pembinaan terhadap dukun bayi, agar angka kematian dan kesakitan terhadap ibu hamil dan bersalin yang diakibatkan oleh kesalahan dan ketidaktahuan dukun bayi yang tidak terlatih dapat ditekan. Kita juga harus mendekatkan diri dengan para dukun dan kader untuk mensukseskan program KIA dengan metode yang disesuaikan dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat yang berbeda-beda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar